SI TANGGUH DARI JONGGOL






Entah mengapa hari ini saya merasa gabut sekali dirumah, bangun tidur bangun tidur dari kasur dan tiba-tiba ada panggilan telepon dari Rio. Beliau mengajak saya untuk pergi ke Gunung Batu, Jonggol, Wah mendadak sekali kata Saya. Namun karena memang hari ini sedang tidak ada kegiatan latihan atau apa-apa yowes langsung saja Saya minta dijemput oleh Rio. Kami berdua sama sekali tidak mengetahui apa-apa tentang Gunung Batu baik dari segi trek maupun lokasi tepatnya dimana.

BERANGKAT COY!

Rio tiba dirumah Saya dengan setelan mendaki namun dengan sandal jepitnya (Jepit gunung).  Berangkat dari Ciledug sekitar pukul 10 pagi kemudian langsung ke arah Ciputat lalu menuju Parung. Suasana perjalanan lengang-lengang saja, motor dapat melaju dengan kecepatan 60-80 km/jam.
Berhenti sejenak di sebuah Indomaret untuk membeli perbekalan disana nanti, sekaligus untuk melihat di Google Maps kearah mana Kami harus berjalan selanjutnya. Sekitar 10-15 menit Kami beristirahat dan berdiskusi tentang perjalanan ini, lalu Kami lanjutkan perjalanan menuju arah Sentul. Ya namanya tidak tahu jalan, lagi-lagi Kami berhenti di Sebuah Masjid di daerah Sentul untuk Sholat Zuhur dan beristirahat sejenak sekaligus melihat  kea rah mana lagi Kami harus berjalan. Kami berdua merasakan bahwa jarak Gunung Batu sangat jauh mungkin karena kami tidak tahu, karena Kami melewati Jungle Land, Universitas Pertahanan serta perkampungan Warga. Entah dimana Kami berada yang jelas sepertinya Kami salah ambil jalan dan Google Maps merespon dengan memberikan rute baru yang 2x lebih jauh dari rute biasa.

TIBA DI GUNUNG BATU




Tidak seperti ekspektasi Kami, ketika kami sampai di kaki Gunung Batu sudah sekitar pukul dua siang. Biasanya saja ke Puncak hanya menghabiskan waktu 3 Jam, ya mungkin ini dikarenakan Kami berdua tidak mengetahui jalan dan sempat diputar-putar oleh Google Maps. Usai parkir motor dan membayar  15 ribu rupiah untuk biaya parkir motor dan retribusi mengunjungi Gunung Batu, saat itu Gunung Batu masih dikelola oleh warga setempat.
Perjalanan dimulai dengan trek turun terlebih dahulu, jalur sudah sangat jelas. Kemudian dilanjutkan dengan trek menanjak sekitar 5 menit dan Kami menemui sekitar kurang lebih ada 5-7 warung disana serta Parkiran motor. Loh ? ini ada lagi diatas, namun yasudahlah Kami lantas bergegas melakukan Pendakian melalui gapura penanda ini.

TANJAKAN KEBO

Seperti di Gunung – gunung lain yang memiliki nama tanjakan tersendiri, di Gunung Batu terdapat Tanjakan Kebo namanya, Saya sendiri tidak mengetahui mengapa diberi nama Tanjakan Kebo. Mungkin ketika kita menanjak disini membuat hati kita menjadi malas melanjutkan perjalanan hingga keatas, itu menurut Saya.

PUNCAK GUNUNG BATU





Tidak sampai 2 Jam pendakian sudah terlihat bendera merah putih berkibar diatas  Puncak Gunung Batu, Namun kali ini tantangan mendaki yang serupa trek tanah berubah menjadi trek dengan bebatuan keras dan besar. Untuk mencapai Puncak harus memanjat batu besar menggunakan tali tambang yang sudah tersedia. Akan tetapi para pengunjung harus berhati-hati, dikarenakan tepat disamping kiri dan kanan adalah jurang.  Batu yang harus kita panjat juga memiliki tinggi sekitar 2-4 meter, Aman asalkan kita selalu memperhatikan langkah kita dan usahakan gunakan alas kaki yang tidak licin. Rio yang saat itu menggunakan sandal gunung mendapat sial yakni sendalnya putus.
Setibanya di Puncak Gunung Batu lekas Kami berdua langsung berswa foto serta menikmati pemandangan alam sekitar. Rio juga sempat merekam video menggunakan kamera ponsel pintarnya, namun mohon maaf di dalam videonya tidak dapat menyajikan gambar secara baik karena teknik merekam yang amatir.. maklum masih belajar.







YAUDAH PULANG

Usai perjalanan panjang nan melelahkan, lalu apalagi ? ya, sudah saatnya Kami pulang masih banyak kewajiban yang harus dikerjakan saat kembali ke Rumah dan beraktifitas seperti biasa nanti.
Naiknya susah nah ini turunnya gimana ya ?, Usai membayangkan sejenak cara turun menggunakan tali, Kami berdua turun seperti aktor-aktor di film laga (Keren lah pokoknya). Kami bergegas turun kebawah, karena berusaha agar sudah sampai jalan raya besar sebelum gelap datang. Sebelum turun ke parkiran bawah Kami sholat ashar terlebih dahulu di sebuah Musholla yang ada di area parkiran kedua.

SAYONARA GUNUNG BATU

Saya menancap gas karena benar-benar tidak ingin berada dalam kegelapan  saat masih di pedesaan. Ya, saat-saat itu merupakan masih Zamannya pembegalan. Namun karena memang Jauh dari Jalan besar, saat adzan maghrib pun kami masih berada di radius 3 km dari Gunung Batu. Berhenti sejenak untuk membeli minum di sebuah warung. Dan perjalanan pulang kami rasakan jauh lebih singkat dibanding perjalanan saat menuju Gunung Batu. Bahkan mungkin ini dapat dikatakan 3x lebih singkat, lanjut cerita Kami berhenti di sebuah Pom bensin untuk menunaikan Sholat Maghrib, isi bensin dan beristirahat sejenak sebelum melanjutkan perjalanan. Karena waktu sebentar lagi Isya maka Kami Sholat Isya terlebih dahulu sebelum melanjutkan Perjalanan.
Perjalanan Pulang memang terasa sangat singkat, Kami berdua menahan lapar sejak tiba di Gunung Batu dan akhirnya memutuskan untuk makan malam di dekat rumah saja. Perjalanan usai setelah kami menyantap bubur ayam dan Rio mengantar saya Pulang.

-----TAMAT-----


SEMOGA BERMANFAAT !
SALAM LITERASI!

***Untuk menuju Gunung Batu silahkan ketik saja Gunung Batu Jonggol di Google Maps dan pastikan mengikutinya dengan benar.
***Bawalah bekal siap santap untuk diatas Gunung, namun bawa turun lagi sampahmu dan buanglah di tempat sampah.

#EXPLORE_JAWA_BARAT


Comments

Post a Comment

DI BULAN INI !