NEKAT NGELINTAS DI GUNUNG GEDE
Pendakian kali ini saya ditemani oleh Taufik (19) serta Ijlal (18) sebut saja si Ijlal (Bejho), kami bertiga sudah memiliki rencana untuk mendaki Gunung Gede sudah sejak dua bulan yang lalu. Agar berbeda dengan yang lain saya memutuskan untuk mencari informasi tentang pendakian lintas jalur, waktu itu saya menonton video Mapala UGM di youtube. Tak lupa saya memberitahu Bejho dan Taufik tentang ide Nekat kala itu, Akhirnya mereka setuju-setuju saja dengan ide nekat ini.
7 April 2017
-----
Bejho yang rumahnya
berada di daerah Karang Tengah, Ciledug memutuskan untuk terlebih dahulu
kerumah Saya. Setelah Bejho tiba Saya dan Beliau langsung menuju ke Jalan Raya Ciledug untuk
menumpangi Bus yang menuju ke arah Kp.Rambutan. Sedangkan Taufik menunggu Bus
di Seskoal, agar lebih efisien waktu, ongkos serta tenaga saja.
Terminal Kp. Rambutan
Disini banyak bus
yang akan mengantar kalian ke luar kota, untuk menuju Gn.Gede/Pangrango kami
bertiga menumpangi bus ¾ yakni Marita dengan tarif 25rb. Siap-siap ketika
kalian naik bus ini, jaga barang bawaan Kalian, karena pada saat kami
menumpangi bus ini sudah jauh melebihi kapasitas (dipaksakan).
Pasar Cipanas
Kami tiba di Pasar
Cipanas, kurang lebih pukul 10 malam, saat itu kami langsung dihampiri oleh seseorang
supir angkot yang menawarkan untuk mengantar kami sampai ke Basecamp Putri,
tanpa berpikir panjang kami bertiga setuju untuk diantar langsung ke Basecamp
tanpa menunggu adanya rombongan lain yang mungkin akan tiba beberapa saat lagi.
Warung Abah Anwar
Saat sang supir
berkata bahwa kami sudah tiba, saat itu kami langsung bergegas menuju ke Warung
(Wr.) Abah Anwar karena saat Saya berselancar di internet direkomendasikan
untuk bermalam disini. Sebenarnya tidak hanya Wr. Abah Anwar yang dapat
dijadikan tempat beristirahat, masih banyak rumah warga dengan warung-warung makannya serta tempat
penukaran Simaksi pun juga dapat dijadikan sarana istirahat. Angin yang menerpa
badan serta tubuh yang lelah akibat perjalanan dari Kp.Rambutan dengan Bus
Marita membuat Kami bertiga Kelaparan. Lantas, Kami bertiga langsung memesan
Nasi goreng ditemani dengan segelas Teh manis hangat. Tak luput dari pandangan
gorengan-gorengan yang berjejer serta baru ditiriskan oleh Si Abah langsung
disantap oleh Kami juga Pendaki-pendaki lain yang sedang beristirahat disini.
Disini kami berjumpa dengan Sembilan orang pendaki asal Cianjur yang dapat
dikatakan masih seumuran dengan kami bertiga. Dikarenakan kami bertiga belum
ada yang punya pengalaman mendaki Gunung Gede walaupun sudah menonton
tayangan-tayangan di youtube, Kami memutuskan bergabung dengan rombongan
mereka.
8 April 2017
--------------------
Basecamp Putri (06.00
WIB) - Alun - Alun Surya Kencana (11.30 WIB) *ETAPE 1
Perjalanan dimulai
tepat pukul 06.00 WIB kami bertiga bersama Sembilan orang lainnya mulai
melakukan pendakian diawali dengan disitanya peralatan mandi (sabun cuci
muka,sabun mandi, serta shampoo). Walaupun kami sempat melakukan negosiasi
dengan pihak Basecamp, karena tidak turun lagi disini melainkan melalui Cibodas
yang berarti kami tidak dapat lagi mengambil barang sitaan kami. Namun, yaa..
namanya juga sudah peraturan, kami memutuskan untuk membiarkan barang-barang
yang sudah disita tersebut.
Pendakian Dimulai !
Atur Nafasmu
Jantung mulai
berdebar, nafas tidak teratur membuat saya cukup kelelahan di awal- awal
pendakian. Trek Gunung Gede Via Jalur Putri memang cukup membuat lutut panas.
Perjalanan yang menanjak tanpa henti membuat kami bertiga sepakat untuk
ditinggalkan oleh rombongan asal Cianjur tersebut.
Waktu menunjukkan
pukul 10.30, fisik sudah mulai menurun namun Fajar alias Bejho yang saat ini
sedang melakukan Pendakian pertamanya masih terus semangat untuk berjalan,
berjalan dan berjalan. Kami berdua yang semula meninggalkan Taufik dibelakang
menjadi terpecah lagi ketika laju kaki saya mulai perlahan dan tidak mampu
mengimbangi Pendaki Racing ini. Bejho tiba di Alun-alun Surya Kencana sekitar
10 menit lebih dulu dibandingkan saya dan 30 menit dibandingkan dengan Taufik.
Cuaca hari ini
(8/4/17 11.30) angin cukup kencang dengan kabut tebal yang membuat hamparan
savanna Gunung Gede tertutupi. Kami memtuskan untuk berlari - lari sejenak
(Lari-lari lucu) serta melakukan foto-foto dan pengambilan video. Lanjut menuju
Alun-Alun Barat sebelum melanjutkan ke Puncak Gede.
A I R T U H A N
T U R U N
Semula kami bertiga
memiliki rencana untuk dapat melanjutkan perjalanan Etape 2 ( Surya Kencana –
Puncak Gede) langsung berubah saat hujan mulai menerpa, bergegas kami mencari
tempat untuk mendirikan tenda yang tidak terlalu terbuka karena angin cukup
kencang dan dingin. Selanjutnya Kami juga membagi tugas saat mendirikan tenda,
Beruntungnya Hujan semakin menjadi ketika kami sudah berhasil mendirikan tenda.
(berhati-hatilah dengan ranjau darat)
MASAK NASI – IKAN
SARDEN
Kejadian yang sama
ketika di Gunung Papandayan terulang yakni nasi yang saya masak tidak sesuai
harapan, melainkan masih terdapat nasi yang klutuk-klutuk (harus belajar lagi)
#kurangpengalaman. Usai mengisi perut, Bejho memutuskan pergi ke aliran Sungai
untuk mengambil persediaan air untuk di tenda.
ADA YANG KETOK-KETOK
?
Saya merasakan bahwa
ada yang mengetok-ngetok tenda padahal diluar sedang hujan, namun mengapa tidak
memanggil kami yang berada didalam ?. Ah sudahlah, saya memutuskan untuk
menahan cerita ini sampai bawah. Dan disinilah dimulainya cerita-cerita yang
tak bisa dijelaskan logika.
9 April 2017 (ETAPE
2)
Alun – alun Surya
Kencana (03.00) – Puncak Gede (06.00)
Perjalanan menuju
puncak diawali dengan bertanya kepada pedagang kemana jalur menuju puncak,
karena saat itu gelap dan kami tidak punya pengalaman mendaki Gunung Gede.
Ternyata jalur menuju puncak sudah sangat jelas karena sudah tersusun rapih
oleh batu-batuan.
FOKUS
Berselang 10 menit
perjalanan dari Surya Kencana, kami berpapasan dengan dua orang pendaki wanita
yang turun kembali dengan salah satunya sudah lemas dan tak bicara apa-apa. Perjalanan
berlanjut dengan suasanya sunyi dan gelap, entah apa yang ada dalam pikiran
Bejho padahal jalan yang seharusnya menanjak ke arah kiri namun beliau malah ke
arah kanan dan berkata bahwa dia melihat saya sedang berjalan ke arah kanan.
Kami pun beristirahat sejenak sebelum kembali melanjutkan perjalanan.
PUNCAK GEDE
Pikiran dan tenaga
kembali terasa segar setelah mengetahui bahwa puncak tidak sampai 5 menit lagi,
kami tiba di puncak pada pukul 06.00 dengan suasana puncak yang dapat dikatakan
ramai. Untuk berfoto pada tugu puncak Gunung Gede saja harus bergantian dengan
beberapa orang pendaki, yaa bisa dibilang lebih dari 200 orang yang sedang
berada di puncak saat itu.
PUNCAK GEDE (07.00) –
KANDANG BADAK (11.00) (ETAPE 3)
Kami bertiga sepakat
untuk turun pada pukul 07.00 karena sadar perjalanan dari Puncak Gede menuju
Basecamp Cibodas adalah perjalanan yang jauh. Singkat cerita kami bertiga salah
memilih jalan turun sekitar 150 meter dari puncak Gede arah Cibodas, kami
memilih trek terjal ke arah sebelah kiri dan yang pasti kita sudah salah jalan.
Usai 15 menit salah jalan (Nyasar) dengan trek terjal tak kunjung henti
akhirnya kami memutuskan untuk beristirahat sejenak untuk mengatur napas,
kembali ke atas atau ke titik awal kami belok rasanya tidak mungkin karena kami
bertiga membawa tas carrier yang lumayan berat kala itu. Akhirnya kami
memutuskan untuk berjalan ke arah kanan saja, kanan, kanan dan kanan karena
jika kita berjalan ke arah kiri salah mengapa kita tidak ke kanan saja saat
berjalan. Dan akhirnya setelah 5 menit ke arah kanan kami menemukan kembali
jalan yang sebenarnya.
TANJAKAN SETAN
Untuk mencapai Kandang
Badak, sebelumnya para pendaki harus melewati Tanjakan yang terbilang cukup
ekstrem apalagi jika sedang musim hujan. Sebenarnya ada jalan landai memutar bagi
para pendaki yang tidak ingin melewati Tanjakan Setan ini, namun bagi kalian
yang belum pernah melewatinya apa salahnya untuk mencoba ? asalkan tetap
memperhatikan pijakan-pijakan kalian. Dag Dig Dug mulai saya rasakan ketika
akan menuruni Tanjakan ini, mengapa ? karena saya membawa dua buah tas yakni,
depan dan belakang. Bejho dan Taufik turun lebih dahulu untuk memberitahu
pijakan mana yang harus saya pijak. Tapi, akhirnya saya berhasil turun juga,
lanjut cerita trek menuju Kandang Badak cukup bersahabat dan akhirnya kami
bertiga tiba di Pos Kandang Badak pukul 11.00 WIB.
SPAGHETTI DI KANDANG BADAK
Kandang Badak memang
Pos yang dapat dikatakan luas bagi para pendaki untuk mendirikan tenda, kami
bertiga beristirahat dan menggelar matras di bawah sebuah pohon di dekat plang
Kandang Badak. Saya kembali menjadi juru masak, Spaghetti yang sangat lezat
(katakan lezat saja ya namanya lapar). Kami beristirahat hingga pukul 13.00
WIB.
KANDANG BADAK
(13.00) – BASECAMP CIBODAS (18.00) (ETAPE 4)
TETAP FOKUS!
Ngelintas di Gunung
Gede memang jelas membutuhkan fisik yang ekstra, karena jalur turun Cibodas
yang panjang namun dengan trek yang cukup bersahabat. Trek Air Panas sangat
menarik karena kita diharuskan terus fokus dikarenakan disebelah kiri kami
adalah air terjun dan sebelah kanan adalah tebing yang mengalir aliran air
panas. Nah, setelah melewati Air Panas kami memutuskan untuk beristirahat cukup
lama di Pondok Pemandangan. Karena kami menyewa sepatu yang ukurannya pas
dengan kaki kami, ini menyebabkan kaki kami menjadi bengkak ketika kami buka
saat beristirahat di Pos Pondok Pemandangan.
Sekali lagi, Ketika
sedang turun dan cuaca berubah dari cerah menjadi gerimis di pertigaan antara
jalan menuju Basecamp dengan Air terjun Cibereum. Bejho yang saat itu berjalan
di Belakang malah menuju berteduh di shelter dan berkata bahwa melihat saya
berjalan ke arah shelter padahal, Taufik dan Saya terus berjalan turun.
Perjalanan
dilanjutkan dengan kondisi fisik yang sudah mulai melemah, pada saat kami
melewati rawa gayonggong sangat terasa bahwa jembatan ini tidak usai-usai kami
lewati. Kondisi fisik yang kelelahan ditambah dengan pikiran ingin cepat sampai
membuat kami menjadi berpikiran yang tidak-tidak.
BASECAMP CIBODAS
Tiba di Basecamp
merupakan sebuah kebahagiaan yang sangat besar saat itu dimana hujan terus
mengguyur tubuh kami bertiga sejak dari Pertigaan itu. Taufik memutuskan untuk
membopong carriernya dari pos penukaran
simaksi karena takut cover bag tasnya tidak mampu menahan air dan isi
carriernya basah. Usai tiba di bawah, Kami bertiga mencari Warung Makan dan
memutuskan untuk bersih-bersih badan (Mandi). Usai mandi sebelum turun ke
Pertigaan Cibodas, Kami bertiga mengisi perut terlebih dahulu.
-Pendakian usai dan
saat di Bus kami mulai menceritakan masing-masing yang pribadi Kami alami-
---------Balik ke
Jakarta---------
Info Akomodasi :
Gn.Gede (Lintas) 7 – 9 April 2017
Terminal Kp.Rambutan
> Pasar Cipanas : 25rb
Pasar Cipanas >
Basecamp Putri : 100.000 (Carter)
Basecamp Cibodas >
Pertigaan Cibodas : 5.000
Pertigaan Cibodas
> Ciawi : 15.000 (Marita)
Ciawi > Sukasari :
4.000
Sukasari > Stasiun
Bogor : 20.000 (Carter)
Stasiun Bogor >
Kebayoran : 7.000
----Biaya
Lain-lain----
Simaksi : 32.500
Nasi Goreng di Warung
Abah Anwar : 10.000
Gorengan : 1000
Teh Manis : 3000
Aqua : 10.000
Makan di Cibodas :
11.000
Mandi : 5000
******YAGITUDEH******
Perjalanan pulang
juga tidak kalah melelahkan, sebaiknya jangan ditiru cara kami yang satu ini.
Sudah tidak ada pengalaman sudah gelap pula.
Jadi begini, ketika
sampai di pertigaan cibodas kami salah naik Marita yang tujuannya bukanlah
Jakarta, akhirnya kami memutuskan untuk ngeteng sana-sini dari Ciawi dengan
bermodalkan bertanya dengan penumpang lain. Setibanya di Sukasari bukannya
mencari angkot tapi Malah memutuskan untuk berjalan kaki ke arah Stasiun Bogor.
Sudah 30 menit berjalan dan memang masih sangat jauh stasiun tersebut akhirnya
kami memberhentikan angkot yang mungkin sang sopirnya sudah ingin pulang.
Yaa Begitulah namanya
Sok tau! Silahkan Dicoba sendiri gaez!!!
***Sekarang mengurus
simaksi TNGGP sudah lebih mudah dan tidak perlu datang terlebih dahulu untuk
menukarnya, melainkan dapat dilakukan di hari pendakian. Diwajibkan juga
melakukan cek kesehatan di klinik yang berada di kantor.
***Untuk pemula
sebaiknya Naik dan Turun melalui jalur Putri saja, walaupun tidak ada mata air
sepanjang jalur, Akan langsung tiba di Alun-alun surya kencana. Dibutuhkan
fisik lebih saat melakukan pendakian lintas seperti ini.
***Rutin berenang dan
jogging sejak 3 minggu sebelum pendakian (minimal 2x seminggu) membuat fisik
kami masih cukup kuat untuk turun dan terus turun.
***Tidak disarankan
untuk berjalan naik/turun saat gelap.
***Saat mendaki lewat
Jalur Cibodas tidak perlu membawa banyak air karena mata air melimpah.
Semoga Bermanfat!
Salam literasi!




Ga ketinggalan yaa jaket freagates pasis. Ditunggu next story. Good luck!
ReplyDelete